Konferensi Meja Bundar – Tokoh, Isi, Dampak dan Tujuan di Lakukannya

Konferensi Meja Bundar

Konferensi Meja Bundar – Usaha mempertahankan kemerdekaan memanglah tidak mudah, terutama bagi Negara Indonesia. Berkali-kali Belanda ingin membendung kemerdekaan Indonesia dengan berbagai upaya. Konferensi Meja Bundar (KMB) adalah salah satu cara Indonesia untuk berdiplomasi dengan Belanda dengan harapan tidak ada lagi korban jiwa yang berjatuhan.

Aksi Belanda untuk menjegal Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan akhirnya tercium hingga ranah internasional. Alih-alih mendukung, berbagai pihak dari internasional malah mengecam tindakan Belanda. Segera simak hal-hal penting mengenai Konferensi Meja Bundar yang terjadi di antara pihak Indonesia dan Belanda.


Latar Belakang Terjadinya Konferensi Meja Bundar

Latar Belakang Terjadinya Konferensi Meja Bundar

Konferensi Meja Bundar atau sering didengungkan dengan nama KMB dilatar belakangi karena adanya kegagalan dari pihak Belanda dalam menghambat kemerdekaan Indonesia itu sendiri. Jalur kekerasan pun akhirnya menjadi pilihan Belanda untuk melancarkan niatnya. Kehadiran Belanda yang kerap kali masih membawa kerugian, akhirnya mengakibatkan tercetusnya beberapa perjanjian.

Perjanjian yang terlahir sebelum KMB terjadi adalah Linggarjati, Renville, dan Perjanjian Roem Royen. Dewan PBB (Peserikatan Bangsa-Bangsa) pada tanggal 28 Januari 1949 akhirnya mengeluarkan putusan yang mengutuk aksi militer Belanda terhadap tentara Indonesia. PBB sendiri mengusulkan agar adanya tindakan diplomasi damai antara Indonesia dan Belanda.

Setelah adanya perjanjian terakhir yaitu perjanjian Roem Royen pada tanggal 6 Juli 1949, PBB berjanji untuk mengadakan lagi pertemuan lanjutan antara pihak Belanda dan Indonesia. Perwakilan PBB untuk Indonesia yang saat itu bertempat di Jakarta mengusulkan untuk adanya konferensi di Den Haag.

Dengan segala bentuk pertimbangan, termasuk pertimbangan untuk mempercepat jalannya penyerahan akan kedaulatan Indonesia, pada 11 Agustus 1949 dibentuklah perwakilan dari Indonesia untuk menghadiri KMB di Den Haag, Belanda. Itulah yang melatar belakangi adanya KMB.

Baca Juga: negara berkembang


Waktu Dan Tempat Terjadinya Konferensi Meja Bundar

Waktu Dan Tempat Terjadinya Konferensi Meja Bundar

KMB sendiri adalah sebuah perundingan yang dilaksanakan di negara kincir angin, Belanda. Tepatnya di Den Haag. Konferensi ini diadakan sejak 23 Agustus 1949 sampai dengan 2 November 1949. Perwakilan yang dikirim untuk menghadiri konferensi ini adalah perwakilan dari Indonesia, BFO, dan dari UNCI.

Konferensi ini diketuai oleh Willem Dress, yaitu politikus sekaligus menjabat sebagai perdana menteri Belanda. Indonesia sendiri mengutus Drs. H. Moh Hatta sebagai delegasinya. Belanda dan UNCI masing-masing mengutus Johannes Henricus Van Maarseveen, dan Thomas Kingston sebagai perwakilan dari pihaknya.


Tujuan Diadakannya Konferensi Meja Bundar

Tujuan Diadakannya Konferensi Meja Bundar

Maksud utama diadakannya konferensi ini adalah untuk menyelesaikan dan menyempurnakan tujuan-tujuan dari perjanjian sebelumnya yang belum terlaksana. Kendati demikian, adapun khususnya diadakannya KMB ini adalah sebagai berikut:

1. Membendung Segala Upaya Tindakan Kekerasan Oleh Belanda

Konferensi Meja Bundar memang salah satu tindakan diplomasi antara Belanda dan Indonesia yang diharapkan bisa menghentikan segala jenis tindakan kekerasan oleh Belanda. Serangan-serangan yang dilakukan Belanda memang berhasil dikalahkan oleh Indonesia, namun tentu saja ada dampak yang terjadi dari tindakan agresi militer yang terjadi.

Kerugian yang lebih banyak berada di sisi Indonesia. Tidak hanya material, namun juga kerugian dalam bentuk moralitas ditanggung oleh Bangsa Indonesia. Belanda kerap melakukan tindakan kekerasan karena mengetahui bahwa Indonesia belum memiliki peraturan negara yang tetap dan kokoh. Pada saat itu memang Indonesia baru saja memproklamirkan kemerdekaannya.

2. Usaha Memperjuangkan Kedaulatan

Tujuan berikutnya mengapa konferensi ini diadakan adalah karena Bangsa Indonesia ingin memperoleh kedaulatannya, lebih-lebih dari pihak Belanda. Pada saat itu, walaupun Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaan, kedaulatannya masih belum diakui oleh Belanda. Ini memberikan dampak buruk bagi Indonesia sendiri.

Belanda masih bebas untuk melakukan eksploitasi berlebih terhadap sumber daya alam di Indonesia. Tentu saja ini melanggar hak yang seharusnya didapatkan oleh negara yang sudah berdaulat. Maka dari itu, KMB ini merupakan salah satu harapan dari Bangsa Indonesia agar mempercepat pembentukan RIS (Republik Indonesia Serikat).

3. Usaha Menyelesaikan Urusan Sengketa Indonesia dan Belanda

Setelah 350 tahun lamanya Belanda menduduki wilayah Indonesia, tentu saja banyak hal yang terjadi di antara kedua belah pihak. Salah satu tujuan KMB diadakan adalah untuk benar-benar melepaskan keterikatan dari Belanda baik dari bidang apapun. Terutama dari infrastruktur dan segala sistem yang berhubungan dengan Belanda.

Terlebih lagi Indonesia harus menyelesaikan permasalahan hutang piutang kepada Belanda semenjak tahun 1942. Belanda menyerahkan Indonesia––pada saat itu sering disebut Hindia Belanda, ke tangan Jepang. KMB menjadi solusi yang diharapkan bisa membantu Bangsa Indonesia untuk memutus hubungan dengan pihak Belanda.

Secara keseluruhan itulah alasan mengapa Konferensi Meja Bundar, yang terjadi di Den Haag diadakan. Kesepakatan yang terjadi pada konferensi ini ditandatangani oleh seluruh pihak pada tanggal 29 Oktober 1949 yang langsung disampaikan ke KNIP atau Komite Nasional Indonesia Pusat.

Baca Juga: segmentasi pasar


Dampak dari Terjadinya Konferensi Meja Bundar

Dampak Dari Terjadinya Konferensi Meja Bundar

Setelah hasil dari KMB sampai di tangan KNIP, selanjutnya diadakan sidang lanjutan pada tanggal 6 sampai dengan 14 Desember tahun 1949 yang bertujuan membahas hasil dari konferensi ini sendiri. Metode yang digunakan untuk mengambil keputusan sidang adalah dengan voting atau pemungutan suara.

Ini adalah saat-saat yang menegangkan bagi Bangsa Indonesia sendiri. Akhirnya, tercapailah hasil dengan kesimpulan 226 menyatakan setuju dengan hasil konferensi, 62 suara menyatakan tidak setuju, dan 31 suara tercatat meninggalkan tempat sidang begitu saja tanpa memilih. Dari hasil tersebut akhirnya seluruh hasil dari KMB sah diterima oleh KNIP.

Keputusan hasil sidang yang diterima oleh Komite Nasional Indonesia Pusat tentu saja membawa lebih banyak dampak positif bagi Bangsa Indonesia. Salah satunya berhasilnya Indonesia diakui sebagai negara yang merdeka. Langkah selanjutnya pada tanggal 15 Desember 1949, dilangsungkannya pemilihan presiden, dan terpilihnya Ir. Soekarno sebagai presiden pertama Republik Indonesia Serikat.

Untuk Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat yang terpilih untuk mendampingi Ir. Soekarno adalah Drs. Moh. Hatta. Disetujui dan disahkan pada tanggal 20 Desember 1949. Pada akhirnya, Belanda mengakui kemerdekaan negara Indonesia secara formal pada tanggal 27 Desember tahun 1949 dengan pengecualian daerah Irian Barat.

Inilah salah satu dampak negatif dari Konferensi Meja Bundar itu sendiri, yaitu penundaan penyelesaian masalah wilayah Irian Barat. Penyerahan wilayah Irian Barat sendiri dijanjikan untuk diserahkan kepada Indonesia selambat-lambatnya setelah satu tahun penyerahan kedaulatan dilaksanakan. Ini terjadi karena Bangsa Indonesia menginginkan bergabungnya Irian Barat menjadi bagian dari Hindia Belanda.

Belanda tentu saja tidak secepat itu menyetujui keinginan Bangsa Indonesia. Belanda tidak mengehendaki bergabungnya Irian Barat dengan Hindia Belanda karena perbedaan suku dan budaya Irian Barat yang berbeda.

Masalah ini menjadi masalah yang belum bisa untuk diselesaikan dan butuh waktu satu tahun lamanya untuk mengkaji dan memutuskannya. Belanda sendiri pada akhirnya baru mengakui kemerdekaan de facto Indonesia, 60 tahun kemudian, tepatnya di tanggal 15 Agustus tahun 2005.

Konferensi Meja Bundar memang memberikan pengaruh yang besar bagi Indonesia. Salah satunya, konferensi yang satu ini disebut sebagai alasan berdirinya Republik Indonesia Serikat. Tanpa diadakannya KMB, perseteruan antara Indonesia dan Belanda mungkin akan terus berlanjut hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Semoga informasi ini bisa menambah wawasan sejarah berdirinya Bangsa Indonesia.

Konferensi Meja Bundar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *