Lagu Daerah Banyuwangi

Lagu Daerah Banyuwangi

Lagu Daerah Banyuwangi – Indonesia adalah gudangnya musik dan lagu daerah. Bahkan, hampir seluruh kabupaten di NKRI memiliki lagu tradisional sendiri. Salah satunya adalah Kabupaten Banyuwangi. Dahsyatnya, lagu daerah Banyuwangi sangat populer, bahkan digubah pada aransemen yang lebih modern.


Sejarah Lagu Daerah Banyuwangi

Sejarah Lagu Daerah Banyuwangi

Lagu daerah Banyuwangi memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Bahkan, dari nilai empiris ini, suku paling tradisional di Banyuwangi yaitu Osing mulai terkenal.

Pasalnya, menurut pakar, asal mula lagu daerah Banyuwangi muncul dari suku ini. Bukti-bukti sejarah juga menunjukkan, kalau suku Osing sudah piawai memainkan alat musik tradisional yang disebut Othek. Dengan alat inilah, masyarakat Osing di kala itu, mulai merangkai lirik dipadukan dengan irama yang mendayu-dayu.

Di kala itu, permainan Othek dan lagu tersebut sangat digemari oleh masyarakat sekitar. Bahkan, ketika ada acara hajatan, masyarakat luar Banyuwangi juga banyak yang menontonnya.

Namun sayangnya, alat musik Othek sudah punah. Penyebabnya, sudah tidak ada lagi pengrajin alat musik dari bambu tersebut. Apalagi, para pemainnya tidak dikader dengan baik. Karena itu, yang tersisa hanya lagu-lagu pengiring musik Othek. Kabarnya, irama dari lagu inilah, yang menjadi cikal bakal lagu daerah Banyuwangi.

Baca Juga: Lagu Daerah Ntb


Ciri Khas Lagu Daerah Banyuwangi

Ciri Khas Lagu Daerah Banyuwangi

 

Setiap lagu daerah di Indonesia memiliki tanda-tanda tertentu. Ciri khas inilah yang membedakan lagu daerah satu dengan daerah yang lain. Begitu juga lagu daerah Banyuwangi dengan ciri khas yang tidak mungkin ditemukan pada lagu Madura, Sunda atau daerah lainnya. Berikut kekhasan dari lagu daerah Banyuwangi, yaitu:

1. Menggunakan Alunan Musik Kendang Kempul

Salah satu ciri khas lagu daerah Banyuwangi adalah selalu diiringi dengan musik kendang kempul. Bahkan, jika ada lantunan lirik dengan iringan model begini, akan dikatakan sebagai musik “Banyuwangi-an”.

Luar biasanya, hingga saat ini, model lagu Banyuwangi dengan kendang kempul tetap eksis. Bahkan, ada yang menerapkannya pada lagu-lagu modern yang tidak terkait dengan nilai-nilai kedaerahan. Bahkan, musik “koplo” yang dianggap genre musik terbaru dan populer, sebagian besar ritme dan iramanya menggunakan kendang kempul Banyuwangi-an.

2. Mengusung Tema Lirik yang Universal

Lagu daerah Banyuwangi tidak hanya bertemakan cinta sepasang kekasih. Lain dari pada itu, ada tema universal yang juga muncul darinya, seperti topik tentang keluarga bahkan politik.

Fakta pilu tetapi nyata, adalah kasus lagu “Genjer-Genjer” di tahun 1965 yang dianggap mengandung tema propaganda komunis. Sedangkan kritikus yang lain menyatakan kalau lagu Banyuwangi karya Mohammad Arief ini bertema kritik terhadap penjajahan Jepang yang sangat kejam.

Bagaimanapun dampak tragedi dari kejadian tersebut, yang perlu diapresiasi ialah, lagu Banyuwangi-an memang mengusung tema yang universal.

Untuk ciri khas ini, hampir semua lagu daerah juga memilikinya. Termasuk lagu Tanduk Majeng di Madura yang mengangkat tema tentang kehidupan masyarakat pesisir atau nelayan. Sedangkan di Betawi ada Lagu Ondel-Ondel yang terkenal.

3. Lagunya Mendayu-dayu dan Merdu

Ciri khas yang ketiga adalah lagunya terasa merdu bahkan terkesan mendayu-dayu. Maka dari itu, semua lagu Banyuwangi lebih mudah meresap di hati para pendengarnya. Apalagi jika tema lirik pernah dialami oleh si penikmat, bukan tidak mungkin air matanya akan bercucuran.

Hal ini diperkuat dengan accord gamelan yang sebagian besar menggunakan kunci minor bukan mayor. Sebuah metode aransemen musik tradisional yang jika diperdengarkan, pasti menimbulkan perasaan haru bagi pendengarnya. Karena aransemen musik semacam ini, memang dikhususkan untuk tema-tema lagu tragedi, seperti putus cinta, kematian, musibah dan lain sebagainya.

Di masa lebih modern, model aransemen ini mulai sering digunakan. Maka muncullah Slow Rock dan Rock Dut. Sebuah genre musik yang juga merdu dan terkesan mendayu-dayu.

4. Lirik Menggunakan Bahasa Osing Asli

Ciri khas lagu daerah Banyuwangi yang selanjutnya ialah liriknya menggunakan bahasa Osing asli. Padahal di sana juga ada masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa dan sebagian Madura.

Hal ini dilakukan, semata untuk mempertahankan budaya lokal masyarakat asli Banyuwangi tersebut. Apalagi menurut sejarahnya, dari masyarakat Osing-lah, lagu daerah Banyuwangi muncul. Maka dari itu, tidak semua orang bisa memahami makna dari lirik tersebut. Kecuali memahami bahasa Osing atau mencarinya di Kamus Bahasa.

Walaupun begitu, lantunan musiknya yang indah dan merasuk hati tetap enak untuk dinikmati. Maka wajar, kalau musik banyuwangi populer hingga saat ini, sekalipun liriknya tidak dimengerti oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Lagu Daerah Medan


Macam-Macam Lagu Daerah Banyuwangi

Macam Macam Lagu Daerah Banyuwangi

Setelah mengetahui sejarah dan ciri khas lagu daerah Banyuwangi, berikut daftar macam-macam judul lagu Banyuwangi yang cukup populer. Ini dia daftar dan penjelasannya, yaitu:

1. Umbul-umbul Blambangan

Mbul umbul belambangan
Mbul umbul belambangn
Mbul umbul belambangan
Umbul-umbul belambangn eman……

He Umbul-Umbul
He belambangan
( 2 X)

Belambangan Belambangan….
Tanah Jawa Pucuk wetan….
Seng arep bosen- seng arep bosen isun nyebut-nyebut….
Araniro Belambangan- Belambangan……
( 2 X)

SOLO :
Membyat Mayun Paman
Suarane……Gending Belambangan
Nyerambahi….Nusantara……
Banyuwangi…..
Kulon gunung wetan segara….
Lor lan kedul alas angker…Keliwat-liwat….
Belambangan……Belambangan……

Ojo takon Seneng susah hang di songgo ….
Tanah endah …Gumelaring…
Taman sari Nusantara…

He Belambangan…He Belambangan ….
Gumelaring Taman Sari Nusantara….

Belambangan he seneng susahe wes tah ojo takon…
Wes pirang-pirang jaman turun temurun yo wes kelakon….
Akeh Prahoro taping langit iro magih biru yoro…
Rakyate magih guyub ngukir lan bangun sing mari-mari….

Belambangan he gunung-gunung iro magih perkoso….
Sawah Lan kebonan iro wero magih subur nguripi….
Ojo kangelan banyu mili magih gede sumberiro…
Magih gede magih lampeg ombak umbul segara niro…

He Belambangn Lir asato banyu segoro…..
Sing Bisa asat asih setyo bakti nisun….
Hang sopo-sopo baen ….
Arep ngacak ngerusak sun belani sun depani sun labuhi….
( 2X)

Gondo arume getih Sritanjung yo magih semebrung …
Amuke satrio Minak Jinggo yo magih perkoso…
Magih kandel keaktenane…Tawang Alun lan Agung Wilis…
Magih Murup tekate sayuwiwit…Lan Pahlawan 45……
Ngadegko Jejeg…Ngadegko jejeg ….
Umbul-umbul Belambangan
Ngadeko jejeg adel lan makmur
NUSANTARA….

Umbul-Umbul Blambangan adalah lagu daerah Banyuwangi buah karya Andang Khatib dengan Basir Nurdian. Lagu ini menceritakan tentang Kerajaan Blambangan (Banyuwangi) yang megah dan besar.

Bagaimana sebuah kerajaan yang sangat besar di nusantara yang kelak menjadi kota Banyuwangi. Bahkan, gending dan taman sari dari kerajaan ini juga ada pada lirik lagu. Inti dari lagu ini ialah, menjelaskan tentang kerajaan Blambangan di masa lalu dan Banyuwangi saat ini.

2. Kembang Pethetan

Pethetan, yo kembang pethetan
Sun tanduring pucu pertamanan
Esuk sore, sing kurang siraman
Sun jogo, sun rumat temenanan
Pethetan, yo kembang pethetan
Kembang mekar, gawe ati kedanan
Kadung sun sawang, tambah sun sawang
Ati susah, dadio girang
reff:
Isun sing ngiro, lan isun sing nyono
Gagang tuklek, kembange sing ono
O-angin, kang liwat ring kono
Melu takon, kang metik tangane sopo
Pethetan, yo kembang pethetan
Kembang ilang, isun kang kelangan
Masio mung kembang, piro regane kembang
Tapi kang ilang, kembange kembang

Isun sing ngiro, lan isun sing nyono
Gagang tuklek, kembange sing ono
O-angin, kang liwat ring kono
Melu takon, kang metik tangane sopo
Pethetan, yo kembang pethetan
Kembang ilang, isun kang kelangan
Masio mung kembang, piro regane kembang
Tapi kang ilang, kembange kembang

Kembang Pethetan adalah lagu Banyuwangi ciptaan Andang Khatib dengan Basir Nurdian. Lagu ini cukup populer dan sempat memasuki dapur rekaman pada era 70an. Kembang pethetan lagu daerah Banyuwangi yang menggunakan alat musik angklung dan gamelan. Sehingga nuansa tradisionalitasnya cukup kental.

Lain daripada itu, ternyata lagu ini juga pernah memiliki sejarah kelam. Yaitu sempat dikaitkan dengan komunis karena salah satu liriknya terkesan politis. Padahal, dari keseluruhan syair, lagu ini hanya menjelaskan tentang kembang hias di taman.

3. Paran Salah Isun

Buru-buru baen, riko welas
Sumpah janji sayang, sampek mati
Keturutan nyandhing, arep ngiplas
Riko sun boti tapi sing ngerti

Paran salah isun, yo nang riko
Opo riko getun, opo gelo
Bengen noleh isun, weruh paran
Tibane sing luput, congkrak mburian

Isun ngomong yo terang-terangan,
Sedurunge yo pikir-pikiren
Mulo kadhung durung kelaksanan,
Janji riko urip mati bareng

Paran salah isun, yo nang riko
Opo riko getun, opo gelo
Bengen noleh isun, weruh paran
Tibane sing luput, congkrak mburian

Isun ngomong yo terang-terangan,
Sedurunge yo pikir-pikiren
Mulo kadhung durung kelaksanan,
Janji riko urip mati bareng

Buru-buru baen, riko welas
Sumpah janji sayang, sampek mati
Keturutan nyandhing, arep ngiplas
Riko sun boti tapi sing ngerti

Paran Salah Isun ciptaan Sutrisno merupakan lagu Banyuwangi yang liriknya sudah menggunakan dual bahasa yaitu bahasa osing dan bahasa Indonesia. Sedangkan makna lagu identik dengan perkasihan. Maka dari itu, hingga saat ini, lagu sudah digubah beberapa kali. Bahkan, versi dangdut koplo juga ada.

4. Kembang Geddang

Kakang sing tek eman, sing jenggote mrayang..
Wulu wulu bebek, kabur kenang angin
Aja ngemek ngemek, durung dadi muhrim..

Lamun kakang, cintane suci murni
Tulung kula, aja dizolimi..
Sumpah kula, lamona wis kawinan
Lambe loro, ya kanggo sampean..
Wulu wulu bebek, kabur kenang angin
Aja ngemek ngemek, durung dadi muhrim..

Lamun kakang, cintane suci murni
Tulung kula, aja dizolimi..
Sumpah kula, lamona wis kawinan
Lambe loro, ya kanggo sampean..
Kembang kembang gedang, murage ning lobang
Kakang sing tek eman, sing jenggote mrayang..

Kembang Geddang adalah lagu yang di dalamnya berisi tentang kehidupan tetapi dikemas dalam bentuk pantun. Sesuai dengan judulnya, di dalam lagu ini penuh dengan lirik kembang. Seperti kembang Gedang dan Melati.

5. Wis Menengo

Wis menengo-, anak isun wis menengo
Ojo nangis-, kelantur-lantur bangur turuwo
Mandego sedelo ala emas, bapak durung teko
Nggolek sandang pangan eman, kanggo emak lan siro

Wis menengo-, anak isun wis menengo
Ojo nangis-, kelantur-lantur bangur turuwo
Mandego sedelo ala emas, bapak durung teko
Nggolek sandang pangan eman, kanggo emak lan siro

Wis menengo-, anak isun wis menengo
Ojo nangis-, kelantur-lantur bangur turuwo
Mandego sedelo ala emas, bapak durung teko
Nggolek sandang pangan eman, kanggo emak lan siro

Lagu Banyuwangi yang kelima tergolong populer dan selalu dilantunkan. Selain iramanya mudah, makna liriknya juga menyentuh.

Lagu ini menceritakan tentang kondisi ibu dengan seorang anaknya yang hidup di desa dan selalu kelaparan. Mereka selalu merintih mengharap sang bapak segera pulang membawa makanan.

Selain lagu di atas, masih banyak lagi lagu daerah Banyuwangi yang lainnya. Sedangkan lagu modern asal Banyuwangi, jumlahnya lebih banyak lagi dan sangat terkenal sebut saja lagu Kanggo Riko dan Edan Turu.

Lagu Daerah Banyuwangi

Lagu Daerah Palembang

Kartika Aryani
5 min read

Lagu Daerah Maluku

Kartika Aryani
5 min read

Lagu Daerah Lampung

Kartika Aryani
7 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *