Metode Penyusutan : Contoh, Karakteristik, Kriteria dan Penjelasannya

Metode Penyusutan

Metode Penyusutan – Dalam mempelajari ilmu akuntansi, akan ditemukan istilah penyusutan aktiva tetap. Penyusutan ini memiliki beberapa metode dalam penghitungannya. Metode penyusutan digunakan untuk mengetahui penurunan nilai suatu aktiva tetap selama waktu tertentu.

Aktiva sendiri adalah sesuatu berupa aset yang dimiliki perusahaan, yang dapat dimanfaatkan pada masa mendatang. Ada dua jenis aktiva, yaitu aktiva lancar dan aktiva tetap. Aktiva lancar adalah aset yang dapat dicairkan kurang dari satu tahun, seperti piutang dan kas.

Sementara aktiva tetap adalah aset yang waktu pemakaiannya lebih dari satu tahun dan berguna untuk operasional perusahaan. Aktiva tetap inilah yang seiring berjalannya waktu akan mengalami penurunan nilai, yang dikenal sebagai penyusutan aktiva tetap atau depresiasi. Laporan penyusutan akan berdampak terhadap pajak yang harus dibayar perusahaan.


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Penyusutan

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Penyusutan

Dalam menghitung penyusutan aktiva tetap, ada faktor-faktor yang mempengaruhi nilai akhir penyusutan. Faktor-faktor tersebut di antaranya:

1. Harga Perolehan (Acquisition Cost)

Ini menyangkut biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan suatu aset atau aktiva. Biaya ini tidak hanya terbatas pada harga beli, tetapi juga memperhatikan ongkos pengiriman, pajak, dan lain sebagainya. Semua biaya tersebut ditotal untuk mengetahui harga perolehan.

2. Umur Ekonomis (Economical Life Time)

Suatu aktiva memilki batasan waktu pemakaian yang disebut umur ekonomis. Perusahaan dapat membuat perkiraan berapa lama suatu aktiva dapat dimanfaatkan secara efektif dan produktif. Ketika aktiva telah mencapai akhir umur ekonomisnya, perusahaan dapat menjualnya kembali.

Penentuan umur ekonomis bisa mengacu pada pasal 11 UU No. 36 Tahun 2008. UU ini merupakan perubahan keempat atas UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.

3. Nilai Residu (Salvage Value)

Aktiva yang telah mencapai akhir umur ekonomisnya, memiliki nilai yang jauh berkurang dari harga perolehannya. Harga akhir ini disebut dengan nilai residu, yaitu perkiraan harga suatu aktiva ketika dijual kembali setelah habis umur ekonomisnya.

Dalam menentukan nilai residu, perusahaan sebaiknya menggunakan jasa ahli penilai. Hal ini bertujuan agar penilaian bersifat independen dan menyesuaikan harga pasar. Aktiva bisa saja tidak memiliki nilai residu. Ini terjadi ketika aktiva tidak dapat dijual, sehingga tidak memberikan pemasukan bagi kas.

Baca Juga: Metode Pembelajaran


Pengelompokan Aktiva Tetap

Pengelompokan Aktiva Tetap

Dalam undang-undang, aktiva tetap dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok bukan bangunan dan kelompok bangunan. Kelompok bukan bangunan terbagi lagi menjadi empat, sementara kelompok bangunan terdiri dari dua macam. Pembagian ini kemudian mempengaruhi penentuan umur ekonomis aktiva.

Penjelasan mengenai pembagian aktiva bukan bangunan dapat diuraikan sebagai berikut.

  • Kelompok 1, yaitu yang memiliki umur ekonomis maksimal 4 tahun. Contohnya meja kayu, mesin-mesin kantor, video recorder, serta sepeda motor.
  • Kelompok 2, berkaitan dengan alat-alat logam seperti mobil, kontainer, hingga lemari besi. Untuk kelompok ini memiliki umur ekonomis maksimal 8 tahun.
  • Kelompok 3, yaitu aktiva dengan umur ekonomis maksimal 16 tahun. Aktiva kelompok ini berbeda-beda pada setiap jenis industri, namun secara umum berkaitan dengan mesin pengolah.
  • Kelompok 4, berkaitan dengan alat-alat berat dan kendaraan besar seperti kereta dan kapal. Umur ekonomisnya maksimal 20 tahun.

Sementara aktiva berupa bangunan terbagi menjadi bangunan permanen dan bangunan tidak permanen. Masing-masing memiliki umur ekonomis maksimal 20 tahun dan 10 tahun.

Baca Juga: Metode Eksperimen


Macam-Macam Metode Penyusutan

Macam Macam Metode Penyusutan

Ada berbagai macam metode atau cara untuk menghitung penyusutan suatu aktiva. Perusahaan bisa memakai metode yang mana saja menyesuaikan dengan jenis aktiva itu sendiri. Berikut 5 metode yang dapat digunakan.

1. Penyusutan Garis Lurus atau Straight Line Method

Pada metode ini, nilai penyusutan aktiva tidak berbeda hingga akhir umur ekonomis aset tersebut. Cara mengetahui nilai penyusutan adalah mengurangi harga perolehan dengan nilai residunya. Setelah itu lakukan pembagian dengan umur ekonomisnya.

Sebagai contoh, ada sebuah aktiva dengan harga perolehan Rp100.000.000,- dan umur ekonomisnya adalah 10 tahun. Perkiraan nilai residunya adalah Rp10.000.000,-. Maka dapat dirumuskan:

(100.000.000-10.000.000) : 10

=90.000.000 : 10

=9.000.000

Dari hasil di atas dapat diketahui bahwa setiap tahunnya aktiva tersebut mengalami pengurangan nilai sebesar Rp9.000.000,-. Dan pada tahun ke sepuluh atau pada akhir umur ekonomisnya, nilai aktiva tersebut tersisa Rp10.000.000,-.

2. Penyusutan Saldo Menurun Ganda atau Double Declining Balance Method

Penghitungan dengan metode penyusutan saldo menurun ganda adalah berupa penggandaan dari nilai penyusutan pada metode garis lurus. Hal ini menyebabkan nilai penyusutan cukup besar pada tahun pertama.

Jika pada metode garis lurus nilai penyusutan langsung diketahui, maka pada metode saldo menurun ganda nilai penyusutan berubah dan menurun setiap tahun. Untuk menghitung penyusutan pada tahun-tahun berikutnya, harus diketahui dulu persentase nilai penyusutannya.

Masih menggunakan contoh kasus di atas, maka cara penghitungan persentase nilai penyusutan adalah 2(100% : 10) = 20%. Sementara untuk mengetahui penyusutan tiap tahun, perhitungannya adalah harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan tahun terkait, lalu dikalikan persentase nilai penyusutannya.

3. Penyusutan Jumlah Angka Tahun atau Sum of The Year Digit Method

Penghitungan dengan motede penyusutan ini digunakan ketika aktiva yang bersangkutan diperkirakan terus menurun produktivitasnya dari waktu ke waktu. Metode ini digunakan untuk menyesuaikan beban penyusutan dengan penurunan produktivitas tersebut.

Sebagai contoh, sebuah mesin akan beroperasi secara maksimal di awal-awal umur ekonomisnya. Seiring berjalannya waktu, produktivitas mesin tersebut akan menurun sementara biaya perawatannya bertambah. Maka dari itu nilai penyusutan juga menurun untuk mengurangi beban biaya perawatan.

Rumus yang digunakan dalam metode ini adalah sisa umur penggunaan dibagi dengan jumlah angka tahun. Hasilnya nanti dikalikan dengan hasil pengurangan harga perolehan dengan nilai residu.

4. Penyusutan Satuan Hasil Produksi atau Productive Output Method

Metode penyusutan ini berpatokan pada produktivitas yang dihasilkan oleh aktiva. Hal utama yang dilihat adalah tingkat kegunaan aktiva karena mempengaruhi pendapatan. Kelebihannya adalah metode ini dapat menyesuaikan beban penyususan dengan pendapatan. Metode ini cocok digunakan terhadap aktiva yang menghasilkan, misalnya printer dan mesin fotokopi.

Tarif penyusutannya dapat dihitung dengan mengurangkan harga perolehan dan nilai residu. Kemudian hasilnya dibagi dengan perkiraan jumlah total produksi. Contohnya mesin produksi dengan harga perolehan Rp1.500.000,- memiliki nilai residu Rp300.000,-. Umur ekonomisnya diperkirakan 4 tahun.

Dalam 4 tahun tersebut, taksiran jumlah produksi secara berturut-turut adalah 6.500, 5.500, 4.500, dan 3.500. Maka jumlah totalnya adalah 20.000 unit. Penghitungan tarif penyusutannya yaitu (1.500.000 – 300.000) : 20.000 = 60. Jadi tarif penyusutannya sebesar 60.

5. Penyusutan Satuan Jam Kerja atau Service Hours Method

Metode penyusutan satu ini menekankan pada masa pakai suatu aktiva. Contoh yang dapat diambil adalah perbandingan dua kendaraan yang spesifikasinya sama. Kendaraan yang satu dipakai setiap hari, sedangkan kendaraan yang satu lagi hanya di pakai di akhir pekan. Kendaraan yang pertama tentu memerlukan perawatan lebih daripada kedua.

Penghitungannya hampir sama dengan metode penyusutan satuan hasil produksi. Yaitu dengan mencari hasil pengurangan harga perolehan dengan nilai residu terlebih dahulu. Perbedaannya, pada metode ini hasil pengurangan tadi dibagi dengan jumlah total jam kerja aktiva.

Demikian 5 metode penyusutan aktiva tetap yang dapat digunakan dalam ilmu akuntansi. Penggunaan metode dipilih dengan memperhatikan jenis aktiva yang akan dihitung penyusutannya. Semoga bermanfaat.

Metode Penyusutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *