Perjanjian Saragosa : Sejarah, Dampak, Tokoh dan Latar Belakangnya

Perjanjian Saragosa

Penjajahan Di Indonesia – Sejak zaman dahulu, wilayah Nusantara memang terkenal dengan keanekaragaman hayatinya. Tak heran, wilayah yang berada di garis khatulistiwa ini menjadi rebutan banyak negara.

Di antaranya adalah Portugis dan Spanyol, yang datang dan berebut pulau Maluku yang menghasilkan banyak rempah-rempah. Pada akhirnya kedua negara tersebut harus mengadakan perjanjian, yang dinamakan Perjanjian Saragosa.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa Portugis dan Spanyol merupakan bangsa dengan armada laut yang tangguh. Keduanya pun adalah yang mempelopori adanya penjelajahan ke berbagai bagian dunia di luar Eropa.

Dengan terbukanya jalur perdagangan yang dirintis kedua negara tersebut, maka muncul banyak penjajahan di wilayah timur, yang menjadi penghasil barang-barang kebutuhan bagi bangsa Eropa.

Hasil dari penjelajahan kedua bangsa itu menjadikan banyak negara Eropa berduyun-duyun mengarungi samudra. Mencari wilayah yang kaya akan hasil bumi dan menempatinya. Alasan awal adalah perdagangan, tapi lama kelamaan bangsa–bangsa Eropa itu menguasai dan menjajah penduduk pribumi.


Kompetisi Wilayah Penjelajahan Antara Portugis dan Spanyol

Kompetisi Wilayah Penjelajahan Antara Portugis Dan Spanyol

Sebelum adanya Perjanjian Saragosa sudah ada perjanjian yang berlaku, yaitu Perjanjian Tordesilas. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa antara kedua bangsa Spanyol dan Portugis, membagi wilayah dunia dalam dua bagian. Hak pelayaran dan perdagangan ke arah barat menuju Benua Amerika, dikuasai oleh Spanyol. Sementara itu, Portugis menguasai wilayah timur termasuk ke wilayah Nusantara.

Hak ini diberikan kepada dua kerajaan Katolik terbesar di Eropa tersebut, karena dua negara itulah yang mempunyai armada laut yang tangguh serta menjadi pelopor penjelajahan dunia. Berkat kepoloporannya itu banyak negara akhirnya dikenal dunia. Salah satunya adalah Indonesia, yang pada masa itu masih terdiri atas kerajaan-kerajaan.

Dengan masuknya Spanyol ke wilayah Maluku, Portugis merasa bahwa Spanyol sudah menyalahi perjanjian yang ada. Oleh karena itulah konflik kedua bangsa menjadi runcing kembali. Untuk mengatasi konflik kepentingan ini, maka dibuatlah perjanjian baru yang lebih menegaskan wilayah kekuasaan masing-masing bangsa.

Baca Juga: Perjanjian Tuntang


Awal Mula Adanya Perjanjian Saragosa

Awal Mula Adanya Perjanjian Saragosa

Sebelum berlakunya Perjanjian Saragosa atau Treaty of Zaragoza, bangsa Portugis telah terlebih dahulu menjejakkan kakinya di bumi Maluku, tepatnya di wilayah Ternate tahun 1512 M. Pada masa ini, Kerajaan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Hairun sedang bersengketa dengan Kerajaan Tidore.

Kedatangan Bangsa Portugis, dimanfaatkan oleh Kerajaan Ternate untuk membantu kerajaan itu menghadapi musuhnya. Portugis mau membangun benteng pertahanan untuk Kerajaan Ternate. Tentu hal ini mau dilakukan dengan imbalan yang sangat mereka butuhkan, yaitu menguasai sepenuhnya perdagangan rempah-rempah.

Pada awalnya, Bangsa Portugis menjalin hubungan yang harmonis dengan Kerajaan Ternate. Lama kelamaan, tindakan Bangsa Portugis itu bukan hanya memonopoli perdagangan, tetapi juga menindas rakyat Ternate. Hingga pada akhirnya membunuh Sultan Hairun yang telah menerima kedatangan dan memberi kekuasaan pada Bangsa Portugis.

Di wilayah Kerajaan Tidore, Bangsa Spanyol mendarat pada tahun 1521 M. Kedatangan Bangsa Spanyol di kerajaan ini sama halnya dengan kedatangan bangsa Portugis di Ternate. Kedua bangsa pada awalnya ingin berdagang, tapi pada akhirnya ingin menguasai perdagangan rempah-rempah. Sejak itu terjadilah ketegangan antara kedua bangsa Eropa tersebut di wilayah Maluku.

Perang klaim atas wilayah kekuasaan di beberapa pulau di Samudra Pasifik, memperuncing pertikaian antara Spanyol dan Portugis. Sebagai dua kerajaan Katolik terbesar, Paus terpanggil untuk menengahi persaingan keduanya dalam penguasaan kawasan timur yang menjadi tak terkendali.

Akhirnya, pada 22 April 1529 M perjanjian tersebut pun dibuat. Bertempat di sebuah kota di Spanyol bernama Kota Saragosa, perjanjian yang menegaskan batas-batas wilayah kekuasaan antara Spanyol dan Portugis. Perjanjian ditandatangani oleh para kepala pemerintahan kedua bangsa, yaitu Raja John III sebagai Kepala Negara Portugis serta Kaisar Charles V sebagai Kepala Negara Spanyol.


Isi Perjanjian Saragosa

Isi Perjanjian Saragosa

Pada masa itu, gereja (dalam hal ini Vatikan) memiliki kuasa yang pada prakteknya lebih tinggi dibandingkan raja. Hal ini dikarenakan, gereja dianggap sebagai wakil dari Tuhan di muka bumi. Oleh karenanya, saran perjanjian dari Paus ini pun begitu didengarkan oleh kedua negara yang bertikai. Adapun isi dari Perjanjian Saragosa adalah sebagai berikut:

  • Bumi terbagi atas dua kekuatan/pengaruh besar, yaitu bagian yang dipengaruhi Bangsa Spanyol dan bagian yang dipengaruhi Bangsa Portugis
  • Wilayah kekuasaan bagian barat daya, sepanjang Meksiko sampai kepulauan Filipina merupakan wilayah kekuasaan Spanyol. Sedangkan Portugis, menguasai bagian timur mulai dari Brasilia sampe kepulauan Maluku.

Baca Juga: Perjanjian Salatiga


Dampak Perjanjian Saragosa

Dampak Perjanjian Saragosa

Melihat dari sejarah terjadinya, isi Perjanjian Saragosa lebih memihak kepada Portugis. Hal ini dimungkinkan, mengingat Portugis memang telah lebih dahulu datang ke Maluku. Sementara itu, Spanyol pun harus mau bersikap dewasa dengan merelakan Maluku pada Portugis. Akan tetapi, tetap saja hasil dari perjanjian tersebut menimbulkan dampak yang cukup besar bagi dunia dan khususnya Indonesia, yaitu:

1. Portugis Menjadi Penguasa Perdagangan Dunia

Perjanjian ini telah memetakan dunia perdagangan dalam dua bagian besar, menempatkan Portugis pada posisi yang sangat menguntungkan. Dengan menguasai wilayah timur yang lebih kaya akan hasil rempah-rempah dan kekayaan alam lainnya, menyebabkan bangsa ini menjadi penguasa perdagangan dunia.

2. Penjajahan di Wilayah Maluku oleh Portugis

Bagi Portugis, selain menguasai Maluku dalam monopoli perdagangan juga semakin menancapkan cengkeramannya pada kerajaan Ternate dan Tidore. Raja dan rakyat kedua kerajaan tersebut didikte dan diperalat demi kepentingan Portugis. Penindasan terjadi cukup lama sampai akhirnya ditaklukkan oleh Sultan Baabullah yang berhasil menghimpun kekuatan.

3. Mengundang Minat Belanda untuk Menguasai Wilayah Nusantara

Pengaruh kekuasaan Portugis atas perdagangan rempah-rempah dunia, menjadikan Maluku sangat terkenal dalam dunia perdagangan. Hal ini memicu bangsa lain untuk datang dan menguasai pulau tersebut. Selain karena pemberontakan dari dalam kerajaan Ternate dan Tidore, kedatangan Belanda pada akhirnya meruntuhkan dominasi Portugis di Maluku.

4. Ganti Rugi untuk Spanyol

Sementara itu, bagi Spanyol Perjanjian Saragosa membawa pengaruh sebaliknya. Dengan gagalnya bangsa ini menguasai Maluku, maka secara otomatis harus rela meninggalkan kepulauan yang kaya akan hasil bumi itu. Walaupun harus menyerahkan Maluku pada bangsa Portugis lewat perjanjian itu, Spanyol memperoleh ganti rugi berupa uang senilai 350.000 dukat (mata uang resmi untuk transaksi internasional pada masa itu).

5. Dimulainya Penjajahan Spanyol di Filipina

Dampak lain bagi Spanyol adalah harus berjuang mendirikan koloni baru di Kepulauan Filipina. Negeri yang tidak sekaya Maluku itu baru bisa ditaklukkan setelah keruntuhan tiga kerajaan Islam yang berkuasa di sana. Ketika Portugis takluk pada Belanda, kekuasaan Spanyol atas Filipina malah semakin kuat. Negara itu dikuasai Spanyol sampai dengan tahun 1898.

Dengan adanya Perjanjian Saragosa, menjadi tonggak awal terjadinya penjajahan di wilayah Nusantara oleh bangsa Eropa. Pendudukan Portugis di wilayah Maluku pada akhirnya menimbulkan kesengsaraan rakyat yang berkepanjangan hingga berabad-abad lamanya. Walau pada sisi lain, pendudukan Portugis atas Maluku menjadikan pulau itu menjadi terkenal karena memiliki kekayaan alam yang berlimpah.

Penjajahan Di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *