Piagam Jakarta 22 Juni 1945 : Rumusan, Sejarah, Naskah dan Bunyinya

Piagam Jakarta 22 Juni 1945

Piagam Jakarta – Bagi Bangsa Indonesia, kemerdekaan yang telah diraih sudah melalui jalan yang panjang dan berliku. Salah satu historis mengenai kemerdekaan Indonesia adalah terjadinya Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Piagam ini sendiri disebut sebagai salah satu usaha jalan tengah antara golongan Islam dan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Jakarta Charter sendiri dirangkai melalui rapat 9 tokoh Bangsa Indonesia yang juga disebut dengan Panitia Sembilan, di tanggal 22 Juni 1945. Berikut adalah hal-hal penting yang perlu diketahui menyangkut Piagam Jakarta. Segera disimak informasinya!


Latar Belakang Piagam Jakarta

Latar Belakang Piagam Jakarta

Jepang yang pada akhirnya mengalami kekalahan pada peristiwa Perang Dunia II, akhirnya menjanjikan akan memberikan kemerdekaan kepada Bangsa Indonesia. Kejadian itu berlangsung pada tanggal 7 September pada tahun 1944. Indonesia langsung saja membentuk panitia untuk merumuskan dasar negara dan bentuk dari pemerintahan Indonesia dengan nama BPUPKI.

Sidang pertama dari BPUPKI ini sendiri terjadi pada tanggal 29 Mei 1945. Dengan anggota sebanyak 62 orang, tentu saja terjadinya berbagai perselisihan antar anggota. Diketahui 15 orang dari pihak golongan Islam berpendapat bahwa Indonesia sebaiknya mengikuti syariat Islam.

Sedangkan 47 orang lainnya yang memegang paham nasionalis, menginginkan Indonesia haruslah berasas kebangsaan dan bukan menganut syariat Islam saja. Soepomo juga menyuarakan tentang perbedaan paham kedua kubu ini dalam salah satu pidatonya di tanggal 31 Mei tahun 1945.

Langkah selanjutnya yang ditempuh oleh BPUPKI adalah diadakannya sidang kedua dengan anggota yang lebih sedikit. Berjumlah 38 orang, akhirnya menyetujui untuk membentuk panitia dengan tugas yang lebih mendetail lagi dengan beranggotakan 9 orang saja. Panitia Sembilan akhirnya dipilih sebagai nama dari panitia ini.

Kesembilan anggota ini dibagi menjadi 5 orang yang dianggap mewakili golongan dengan paham nasionalis dan 4 orang mewakili golongan Islam. Perjalanan panitia Sembilan tidaklah mudah, namun pada akhirnya berhasil untuk mencapai modus vivendi (kesepakatan sementara) dari kedua golongan. Kesepakatan itu berupa rancangan pembukaan hokum-hukum dasar yang akhirnya dijadikan preambule UUD 1945.

Pada akhirnya Panitia Sembilan mengesahkan dan menandatangani naskah tersebut pada 22 Juni tahun 1945. Muh. Yamin lalu memberi nama naskah tersebut Piagam Jakarta atau Jakarta Charter.

Baca Juga: pertumbuhan ekonomi


Rumusan Dasar Pancasila dalam Piagam Jakarta

Rumusan Dasar Pancasila Dalam Piagam Jakarta

BPUPKI pada akhirnya menentukan bahwa dasar-dasar negara Indonesia yang terdapat dalam Jakarta Charter dinamakan dengan Pancasila. Dalam menentukan teks Pancasila, ada tiga orang tokoh yang mengajukan usulan tentang isi dari Pancasila tersebut. Ketiga orang itu adalah Soekarno, Muh. Yamin, dan juga Soepomo.

Didasari dengan adanya berbagai perbedaan tersebut, akhirnya Panitia Sembilan membentuklah rumusan dari Pancasila secara garis besar pada tanggal 22 Juni tahun 1945. Rumusan yang disepakati mencakup 5 poin yang bertujuan untuk melawan imperlialism, capitalism, kolonialisme, dan juga fasisme. Semua yang poin-poin tersebut dicatat dalam naskah Jakarta Charter.

Rumusan yang disarankan oleh Panitia Sembilan tersebut diterima dengan baik oleh pihak BPUPKI dan dijadikan Rancangan Mukadimah Hukum Dasar Negara Indonesia. Tepatnya di tanggal 14 Juli tahun 1945, rancangan tersebut disahkan.

Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaannya, rumusan tersebut disetujui juga dan disahkan oleh PPKI sebagai dasar dari filsafat Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945. Naskah Jakarta Charter sendiri lalu ditetapkan menjadi pembukaan dari UUD 1945.

Gambar Naskah Jakarta Charter

Baca Juga: perang dingin


Masalah dan Perubahan yang Terjadi Pada Pembentukan Piagam Jakarta

Masalah Dan Perubahan Yang Terjadi Pada Pembentukan Piagam Jakarta

Jakarta Charter dibentuk bukan tanpa polemik yang pelik yang berasal dari dua kubu yang berbeda. Seperti yang diketahui pada proses penyusunan dan pembentukan Jakarta Charter, terdapat kubu dengan paham nasionalis dan juga kubu dengan paham Islam. Tidak hanya itu, ada pula permasalahan lain yang timbul dari anggota-anggota yang pada saat itu menghadiri pertemuan. Berikut merupakan detail dari permasalahan yang terjadi dalam proses Jakarta Charter :

1. Adanya Protes dari Utusan Timur

Dalam naskah Jakarta Charter, terdapatlah satu kalimat yang mengharuskan rakyat Indonesia wajib menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya. Kalimat tersebut menimbulkan polemik bagi para utusan dari Indonesia bagian Timur. Dengan adanya kalimat itu, menandakan bahwa Indonesia adalah negara dengan syariat Islam.

Ini tidak adil bagi para masyarakat Timur, mereka menganggap dengan begitu masyarakat yang menganut agama lain otomatis akan menjadi warga nomer dua. Ir. Soekarno bersama dengan Drs. Moh. Hatta pada akhirnya mengadakan rapat resmi untuk membahas mengenai hal ini.

Melibatkan beberapa tokoh seperti Wahid Hasyim dan Mohammad Hasan. Pada akhirnya, setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, para tokoh tersebut setuju untuk menghilangkan kalimat tersebut lalu digantikan dengan kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Perubahan Pasal 6 Ayat 1

Masalah yang dihadapi selanjutnya dalam proses pembentukan Jakarta Charter adalah perubahan pada pasal 6 ayat 1 pada UUD 1945. Pergantian tersebut terjadi pada kalimat presiden yang diharuskan beragama Islam dan juga orang Indonesia menjadi presiden haruslah berasal dari Indonesia asli saja.

3. Perubahan Pasal 29 Ayat 1

Perubahan pasal selanjutnya terjadi pada Pasal 29 Ayat 1. Pada awalnya pasal tersebut menyangkut negara yang berkewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Setelah melalui kesepakatan, diubah menjadi negara berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa.

4. Kecewanya Para Tokoh Muslim

Sebagian dari para tokoh dengan paham Islam sangat sulit menerima perubahan yang terjadi. Mereka beranggapan bahwa rumusan yang sudah dirancang sedemikian rupa selama 21 hari, tidak bisa diubah begitu saja dalam hitungan menit. Kejadian tersebut terjadi bak permainan sulap yang sudah direncanakan.

Kekecewaan yang paling ditonjolkan adalah kekecewaan kepada Ir. Soekarno terutama berasal dari M.Isa Anshari. Peran Soekarno pun diragukan karena dianggap ikut berperan dalam penggantian dari isi Piagam Jakarta.

Sebagian tokoh Islam menyuarakan ketidaksetujuannya bukanlah tanpa alasan. Nyatanya, bagi sebagian tokoh, Syariat Islam adalah alasan mengapa perjuangan untuk meraih kemerdekaan harus terus dilakukan. Kendati demikian, para tokoh Islam juga memahami bahwa Indonesia Timur perlu dirangkul agar Indonesia bisa merdeka sepenuhnya dari Belanda.

5. Isu Soekarno Akan Mengembalikan Jakarta Charter

Pada Januari tahun 1959, wacana untuk mengembalikan Jakarta Charter muncul kembali sebagai permasalahan baru dalam bidang politik. Soekarno menyuarakan 24 poin di mana pada poin ke-9 menyatakan bahwa Soekarno berpihak pada umat Islam. Tentu saja ini menjadi sebuah masalah bagi para penganut non-muslim.

Tanggal 22 April tahun 1959, Soekarno menyampaikan aspirasinya di depan Konstituante yang lalu segera menyebabkan perdebatan yang alot. Kelompok non-muslim menganggap bahwa Jakarta Charter bukanlah sumber hukum melainkan hanya dokumen sebagai medium untuk meraih kemerdekaan.

Di lain pihak, golongan Islam berpendapat bahwa Jakarta Charter mempengaruhi seluruh batang tubuh dari Undang-Undang Dasar 1945. Dikarenakan perdebatan alot yang terjadi tak kunjung usai, pada akhirnya Soekarno mengeluarkan sebuah Dekrit di tanggal 5 Juli tahun 1959. Soekarno yang didukung penuh oleh militer, akhirnya menyatakan Piagam Jakarta sebagai jiwa dan bagian tetap dari UUD 1945.

Demikianlah pembahasan mengenai Piagam Jakarta sebagai bagian dari proses kemerdekaan Bangsa Indonesia. Meraih kemerdekaan Indonesia tentu bukanlah hal yang mudah bagi para pejuang kemerdekaan. Semoga informasi di atas bisa lebih menumbuhkan kecintaan pada Bangsa Indonesia sendiri.

Piagam Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *